Pergerakan mahasiswa Indonesia

PERGERAKAN MAHASISWA DI INDONESIA
Mahasiswa merupakan anak bangsa yang memiliki kemampuan dan menyandang predikat sebagai kaum dengan intelektualitas tinggi. Hal ini dikarenakan mahasiswa mampu untuk memahami, meneliti, mengkritisi, menuntut, dan menentang suatu permasalahan dalam berbagai sektor kehidupan sesuai dengan bidangnya masing-masing. Mahasiswa adalah generasi yang kreatif, inovatif, dan visioner yang haus akan penegakkan kebenaran dalam semua permasalahan sosial. Untuk itu perlu adanya gerakan mahasiswa guna mewadahi semua aspirasi dan pusat kegiatan diskusi dengan orientasi politik yang jelas. Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa sering menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam catatan sejarah bangsa. Gerakan mahasiswa harus dilandasi beberapa bentuk sikap sebagai penopang pergerakan yang akan dlaksanakan. Sikap tersebut antara lain : menghindari cara-cara anarkis dalam menanggapi masalah, rasional serta logis dalam menuntut perubahan, dan bijak dalam pengambilan keputusan. Adapun sejarah pergerakan itu sendiri tercatat sebagai berikut :
Perjalanan panjang sejarah perjuangan mahasiswa dimulai ditandai dengan lahirnya Boedi Oetomo yang didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908 oleh pemuda, pelajar, mahasiswa dari STOVIA. Disusul oleh pergerakan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belanda dengan konstribusi berupa pendirian Indische Vereeninging yang kemudian berubah nama menjadi Indonesische Vereeninging tahun 1922. Kehadiran Boedi Oetomo,Indische Vereeninging, dan disusul organisasi lain pada masa itu merupakan suatu episode sejarah yang menandai munculnya sebuah angkatan pembaruan dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai aktor terdepannya. Generasi ini dikenal dengan generasi 1908 dengan misi utama menumbuhkan kesadaran kebangsaan, hak-hak kemanusiaan untuk memperoleh kemerdekaan, dan mendorong semangat rakyat melalui pendidikan yang mereka berikan, serta berjuang membebaskan diri dari penindasan kolonialisme.
Dari kebangkitan kaum terpelajar yang dihasilkan dari politik etis, para mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda memunculkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda dicetuskan melalui Konggres Pemuda II yang berlangsung di Jakarta .
Dalam perkembangan dinamika pergerakan nasional muncul kebutuhan baru untuk mengubah organisasi pemuda menjadi partai politik, terutama dengan tujuan memperoleh basis massa yang luas. Maka dari itu lahirlah beberapa partai antara lain Partai Bangsa Indonesia (PBI) dan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI).
Memasuki zaman pemerintahan Jepang yang jauh lebih represif dibandingkan dengan kolonial Belanda,organisasi pelajar dan mahasiswa, termasuk partai politik dibubarkan oleh pemerintahan Jepang, Kondisi yang vacuum tersebut, maka mahasiswa akhirnya memilih untuk lebih mengarahkan kegiatan dengan berkumpul dan berdiskusi terutama di asrama-asrama.
Beralih pada masa sejak kemerdekaan dimulai, muncul kebutuhan akan aliansi antara kelompok-kelompok mahasiswa, diantaranya Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), yang dibentuk melalui Kongres Mahasiswa yang pertama di Malang tahun 1947.
Selanjutnya, pada masa Demokrasi Liberal muncul berbagai ormas mahasiswa yang tercatat terdapat hubungan khusus dengan partai politik misalnya HMI dgn Masyumi, PMKI dgn Parkindo, GMNI dgn PNI, CGMI dgn PKI dll.
Pada tahun 1965 dan 1966, mahasiswa Indonesia banyak terlibat dalam perjuangan mendirikan Orde Baru. Gerakan ini dikenal dengan istilah Angkatan '66. Angkatan ini mengangkat isu Komunis sebagai bahaya laten negara. Setelah Orde Lama berakhir, aktivis Angkatan '66 pun mendapat hadiah dengan banyak yang duduk di kursi DPR/MPR. Namun dimasa ini ada salah satu tokoh yang sangat idealis,yang sampai sekarang pantas menjadi panutan bagi mahasiswa-mahasiswa yang idealis setelah masanya, dia adalah Soe hok gie.
Perbedaan gerakan mahasiswa 1966 dan 1974, adalah bahwa generasi 1966 memiliki hubungan yang erat dengan kekuatan militer, untuk generasi 1974 yang dialami adalah konfrontasi dengan militer. Sebelum gerakan mahasiswa 1974 meledak, bahkan sebelum menginjak awal 1970-an, sebenarnya para mahasiswa telah melancarkan berbagai kritik dan koreksi terhadap praktek kekuasaan rezim Orde Baru, seperti: golput yang menentang pelaksanaan pemilu di masa orde baru dan gerakan menentang pembangunan TMII pada 1972. Menjelang Pemilu 1971, pemerintah Orde Baru telah melakukan berbagai cara dalam bentuk rekayasa politik, untuk mempertahankan dan memapankan status quo.
Aksi mahasiswa pada kisaran taun ini adalah adanya demonstrasi memprotes PM Jepang Kakuei Tanaka yang datang ke Indonesia dan peristiwa Malari pada 15 Januari 1974. Akibatnya 9 orang meningal . Setelah peristiwa Malari, hingga tahun 1976 berita tentang aksi protes mahasiswa nyaris sepi karena telah mulai banyaknya peraturan pemerintahan yang mengikat dunia kemahasiswaan diantaranya penyeragaman ideologi melalui TAP MPR no,II/MPR/1978 diberlakukan penataran P4 dengan metode indoktrinasi. serta peraturan lainya yang terkait dengan kebijakan kampus seperti Kuliah Kerja Nyata.
Pada tahun 1978 mahasiswa mulai mengetahui ada yang dipaksaan pada pemerintahan saat itu. Aksi menentang pemerintahan orba terjadi di kota Yogyakarta, Bandung, dan Surabaya. Namun gerakan ini digagalkan karena dalam skala terbatas. Gerakan mahasiswa tahun 1978 mulai dibendung pemerintah dengan banyaknya peraturan mengenai kehidupan kampus serta adanya peraturan tentang Dewan mahasiswa sejak 28 januari 1978 yang melumpuhkan Ormawa. Kemudian puncaknya dengan di berlakukanya NKK/BKK (Normalisasi Kegiatan Kampus dan Badan Kordinasi Kemahasiswaan) yang banyak bermuatan politis dari pada edukatif.
Mahasiswa kembali bangkit di tahun 1998, saat kondisi ekonomi Indonesia mengalami krisis moneter serta adanya keputusan bahwa Soeharto akan menjabat lagi, disamping itu semua elemen yang menentang kediktaktoran dari Soeharto turun kejalan untuk menyuarakan reformasi lewat pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, aksi ini memaksa Presiden Soeharto melepaskan jabatannya. Berbagai tindakan represif yang menewaskan aktivis mahasiswa dilakukan pemerintah untuk meredam gerakan ini di antaranya: Peristiwa Cimanggis, Peristiwa Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi semanggi.
Pada era sekarang ini gerakan mahasiswa banyak dikritisi karena penurunan kualitasnya dibanding dengan gerakan-gerakan sebelumnya. Hal ini dikarenakan para mahasiswa mengedepankan kepentingan pribadi ketimbang kepentingan sosial secara universal. Aksi penentangan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat tidak lagi mampu mengundang simpati mereka. Bahkan rakyat cenderung beranggapan mahasiswa hanya bisa ngomong dan demo terus. Apalagi ditemukan beberapa kasus demo bayaran. Terlebih dengan ulah oknum mahasiswa pada saat Pilkada di beberapa daerah akhir-akhir tahun ini. Namun perubahan paradigma pergerakan mahasiswa hendaknya tidak mengurangi fungsi kita sebagai penggerak pembaharu yang tetap peduli kepada masyarakat bawah karena sampai kapan pun mahasiswa dengan semangat mudanya akan memegang peranan penting dalam mengontrol kebijakan-kebijakan publik. Mari kita tunjukkan bahwa mahasiswa benar-benar bisa menjadi The Agent of Social Control.
Sumber :
http://hminews.com/news/gerakan-pemuda-dan-mahasiswa-dalam-transisi/
http://ekstra.kompasiana.com/group/muda/2010/02/02/pergerakan-mahasiswa-esensi-dan-sikap-luhurnya/
http://www.gudangmateri.com/2010/07/dinamika-pergerakan-mahasiswa.html
http://blog.unand.ac.id/rossalina002blog/2010/06/08/pergerakan-mahasiswa/
http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_mahasiswa_di_Indonesia